Esai 9_UTS PSi Lingkungan-EndahLastriati 23310410067
ESAI 9- JAWABAN UTS PSIKOLOGI LINGKUNGAN
ENDAH LASTRIATI ( 23310410067 )
FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS PROKLAMASI 45 YOGYAKARTA
DOSEN PENGAMPU : Dr. Dra. ARUNDATI SHINTA, MA
Sampah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses
produksi baik
domestik (rumah tangga) maupun industri. Dalam Undang-undang
No 18 Tahun 2008
tentang Pengelolaan Sampah, disebutkan bahwa sampah adalah
sisa kegiatan sehari
hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat atau semi
padat berupa zat organic atau anorganik bersifat dapat terurai atau tidak dapat
terurai yang dianggap sudah tidak berguna lagi dan dibuang ke lingkungan.
Ditinjau dari sumbernya, sampah berasal dari beberapa
tempat, yakni :
1) Sampah dari pemukiman penduduk pada suatu pemukiman
biasanya sampah
dihasilkan oleh suatu keluarga yang tinggal di suatu
bangunan atau asrama. Jenis
sampah yang dihasilkan biasanya organik, seperti sisa
makanan atau sampah
yang bersifat basah, kering, abu plastik dan lainnya.
2) Sampah dari tempat-tempat umum dan perdagangan tempat
tempat umum adalah
tempat yang dimungkinkan banyaknya orang berkumpul dan
melakukan kegiatan.
Tempat-tempat tersebut mempunyai potensi yang cukup besar
dalam memproduksi sampah termasuk tempat perdagangan seperti pertokoan dan pasar.
Jenis sampah yang dihasilkan umumnya berupa sisa-sisa makanan, sayuran dan buah
busuk, sampah kering, abu, plastik, kertas, dan kaleng-kaleng serta sampah
lainnya.
Kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari sampah dan
dalam kegiatannya
manusia senantiasa menghasilkan sampah baik sampah organik
maupun non organik.
2.2. Jenis-jenis Sampah
Berdasarkan asal atau sumbernya, sampah padat dapat
digolongkan menjadi 2 (dua)
yaitu sebagai berikut :
1) Sampah organik, adalah sampah yang dihasilkan dari
bahan-bahan hayati yang
dapat didegradasi oleh mikroba atau bersifat biodegradable.
Sampah ini dengan
mudah
dapat diuraikan melalui proses alami. Sampah rumah tangga sebagian
besar merupakan bahan organik.
Termasuk sampah organik, misalnya sampah
dari dapur, sisa-sisa makanan,
pembungkus (selain kertas, karet dan plastik),
tepung, sayuran, kulit buah, daun dan
ranting. Selain itu, pasar tradisional juga
banyak menyumbangkan sampah organik
seperti sampah sayuran, buah-buahan
dan lain-lain.
2) Sampah non norganik atau
anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-
bahan non hayati, baik berupa produk
sintetik maupun hasil proses teknologi
pengolahan bahan tambang. Sampah
anorganik dibedakan menjadi sampah
logam dan produk-produk olahannya,
sampah plastik, sampah kertas, sampah
kaca dan keramik, sampah detergen.
Sebagian besar anorganik tidak dapat diurai
oleh alam/ mikroorganisme secara
keseluruhan (unbiodegradable). Sementara,
sebagian lainnya hanya dapat
diuraikan dalam waktu yang lama. Sampah jenis ini
pada tingkat rumah tangga misalnya
botol plastik, botol gelas, tas plastik, dan
kaleng. Dampak negatif sampah-sampah
padat yang bertumpuk banyak tidak dapat teruraikan dalam waktu yang lama akan
mencemarkan tanah. Yang dikategorikan sampah disini adalah bahan yang tidak
dipakai lagi (refuse) karena telah diambil bagian-bagian utamanya dengan
pengolahan menjadi bagian yang tidak disukai dan secara ekonomi tidak ada
harganya.
Timbulnya
perbedaan dalam mempersepsikan kumuh ( slums ), kesumpekan ( crowding ),
tekanan lingkungan ( environmentpressure ) , ruang privat ( private space ),
ruang public ( public space ), ruang profane, ruang skral, lingkungan yang
baik, standar minimal lingkungan. Perlu dipahami tentang kompleksitas dan ragam
persepsi lingkungan agar perbendaharaan tentang persepsi lingkungan bertambah.
(persepsi lingkungan_Sarwono)
Dampak-dampak terhadap Aspek
Sosial dan Ekonomi adalah sebagai berikut :
- Pengelolaan sampah yang
tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat
kesehatan masyarakat, yang
juga berarti semakin meningkatnya biaya
pemeliharaan kesehatan untuk
pengobatan.
- Menurunnya kenyamanan
bertempat tinggal akibat penumpukan sampah yang
tidak terkelola dengan baik,
dan menciptakan pemandangan yang tidak sedap dan
tidak sehat.
- Penurunan kualitas infrastruktur
seperti saluran drainase, irigasi dan jalan akibat
masuknya sampah ke dalam
saluran.
- Terganggunya aktivitas
ekonomi akibat gangguan polusi baud an visual akibat
pengelolaan sampah yang kurang
baik.
Pengelolaan
sampah 3R secara umum adalah upaya pengurangan
pembuangan
sampah, melalui program
menggunakan kembali (Reuse), mengurangi (Reduce), dan
mendaur ulang (Recycle).
1) Reuse (menggunakan kembali)
yaitu penggunaan kembali sampah secara
langsung,baik untuk fungsi
yang sama maupun fungsi lain.
2) Reduce (mengurangi) yaitu
mengurangi segala sesuatu yang menyebabkan
timbulnya sampah.
3) Recycle (mendaur ulang)
yaitu memanfaatkan kembali sampah setelah
mengalami proses pengolahan.
Mengurangi sampah dari sumber
timbulan, diperlukan upaya untuk mengurangi sampah
mulai dari hulu sampai hilir,
upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengurangi
sampah dari sumber sampah
(dari hulu) adalah menerapkan prinsip 3R
Penulis selain sebagai
Mahasiswa UP 45 Yogyakarta disini juga sebagai seorang Karyawan pada Perusahaan
Snack & Beverage yang banyak sekali menghasilkan sampah, khususnya sampah
anorganik. Dalam program Perusahaan yaitu mengajak Karyawan Ubah Sampah menjadi
peluang bisnis melalui Maggot. karyawan Garudafood mendapatkan produk-produk
turunan dari hasil budidaya maggot seperti pupuk kasgot, planter kit, sayuran
organik (yang diberi pupuk kasgot), lilin aromaterapi (berbahan dasar minyak
maggot), dan maggot kering untuk pakan ikan hias. Produk turunan ini merupakan
hasil dari program kemitraan dengan Biomagg.
Jakarta,
3 April 2024 -
PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (Garudafood) berkolaborasi dengan Biomagg
dalam menyelenggarakan edukasi dan pelatihan pengelolaan sampah organik bagi
karyawan. Program ini bertujuan mendukung target pemerintah dalam pengurangan
dan penanganan sampah organik dengan metode biokonversi maggot atau larva Black Soldier Fly (BSF).
Kemitraan ini merupakan langkah kreatif dan solutif untuk optimalisasi
pengelolaan sampah organik, dengan harapan program ini dapat memberikan dampak
positif bagi lingkungan, ekonomi, dan sosial, serta menginspirasi masyarakat
untuk turut berkontribusi dalam pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Garudafood juga menggandeng
Biomagg untuk program pemberdayaan masyarakat melalui budidaya maggot BSF di
Kelurahan Jatijajar, Depok, Jawa Barat melalui pelatihan dan bimbingan teknis
sejak Januari 2024 dengan melibatkan 30 Kepala Keluarga (KK) Jatijajar.
Sebelumnya, Garudafood telah menginisiasi program Kampung Wirausaha Maggot
sejak 2021 di Pati, Jawa Tengah bekerja sama dengan pemuda karang taruna
setempat.
Sejak
2021 hingga Maret 2024, Garudafood telah mengolah dan mencegah timbulan sampah
organik berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) sebesar 20,20-ton sampah,
menghasilkan lebih dari 6-ton maggot BSF yang bernilai ekonomis, mengedukasi 30
kepala keluarga. Dari upaya ini, Garudafood berhasil mencegah terbentuknya
emisi karbon setara dengan 67,14-ton ekuivalen karbon dioksida.
Pemerintah
menargetkan Indonesia Bersih Sampah 2025 melalui 30 persen pengurangan sampah
dan penanganan sampah dengan benar sebesar 70 persen dari total timbulan sampah
pada tahun 2025. Dilansir dari Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional
(SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pada tahun 2023
Indonesia menghasilkan 19 juta ton sampah dengan komposisi sampah terbesar
berasal dari sampah sisa makanan yakni sebesar 41 persen. Kemitraan ini dinilai
menjadi langkah kreatif dan solutif untuk optimalisasi pengelolaan sampah
organik dengan metode Biokonversi maggot dengan berbagai keuntungan, di
antaranya menciptakan ketahanan pangan, menciptakan lapangan kerja baru.
Perlu ditekankan dalam tulisan
ini bahwa persepsi terhadap lingkungan hidup
penting, sebagai salah satu
dasar bagi munculnya perilaku yang lebih pro terhadap
pelestarian lingkungan hidup
DAFTAR PUSTAKA :
-
Garudafood Ajak Karyawan Ubah Sampah Menjadi
Peluang Bisnis melalui Maggot,3 April 2024.
-
Persepsi Lingkungan
-
Permukiman Akhir Kulon Progo
Komentar
Posting Komentar